Senin, 23 September 2013

Kelompok 4

TUGAS GEOGRAFI 


KELOMPOK 4
Anggota:
1.        Ainun Afifah Siswoyo       (04)
2.        Dimas Catur W                   (10)
3.        Iman Sri Nugroho              (16)
4.        M. Faishal                             (22)
5.        Rika Indriyana                    (28)
6.        Waris Awwaliyyah            (34)

SMA NEGERI 2 SEMARANG

-------------------

SEJARAH TERJADINYA BUMI

Bumi adalah planet tempat tinggal seluruh makhluk hidup beserta isinya. Sebagai tempat tinggal makhluk hidup, bumi tersusun atas beberapa lapisan bumi, bahan-bahan material pembentuk bumi, dan seluruh kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. Bentuk permukaan bumi berbeda-beda, mulai dari daratan, lautan, pegunungan, perbukitan, danau, lembah, dan sebagainya.
Bumi sebagai salah satu planet yang termasuk dalam sistem tata surya di alam semesta ini tidak diam seperti apa yang kita perkirakan selama ini, melainkan bumi melakukan perputaran pada porosnya (rotasi) dan bergerak mengelilingi matahari (revolusi) sebagai pusat sistem tata surya. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya siang malam dan pasang surut air laut.
Oleh karena itu, proses terbentuknya bumi tidak terlepas dari proses terbentuknya tata surya kita.
Bagaimana Bumi ini terbentuk secara pasti masih merupakan perdebatan dimana banyak pendapat yang dikemukakan oleh para ahli dengan alasan yang berbeda-beda pula. Berikut ini beberapa teori mengenai pembentukan bumi yang umum dikenal.


Teori Kant – Laplace



Sejak jaman sebelum Masehi, para ahli telah banyak berfikir dan melakukan analisis terhadap gejala-gejala alam. Mulai abad ke 18 para ahli telah memikirkan proses terjadinya Bumi. Salah satunya adalah teori kabut (nebula) yang dikemukakan oleh Immanuel Kant (1755) dan Piere de Laplace (1796)? Mereka terkenal dengan Teori Kabut Kant-Laplace. Dalam teori ini dikemukakan bahwa di jagat raya terdapat gas yang kemudian berkumpul menjadi kabut (nebula).

Gaya tarik-menarik antar gas ini membentuk kumpulan kabut yang sangat besar dan berputar semakin cepat. Dalam proses perputaran yang sangat cepat ini, materi kabut bagian khatulistiwa terlempar memisah dan memadat (karena pendinginan). Bagian yang terlempar inilah yang kemudian menjadi planet-planet dalam tata surya.


Teori Planetesimal



Pada awal abad ke-20, Forest Ray Moulton, seorang ahli astronomi Amerika bersama rekannya T.C Chamberlain, seorang ahli geologi, mengemukakan teori Planetisimal Hypothesis, yang mengatakan matahari terdiri dari massa gas bermassa besar sekali, pada suatu saat didekati oleh sebuah bintang lain yang melintas dengan kecepatan tinggi di dekat matahari. Pada waktu bintang melintas di dekat matahari dan jarak keduanya relatif dekat, maka sebagian massa gas matahari ada yang tertarik ke luar akibat adanya gravitasi dari bintang yang melintas tersebut. Sebagian dari massa gas yang tertarik ke luar ada yang pada lintasan bintang dan sebagian lagi ada yang berputar mengelilingi matahari karena gravitasi matahari. Setelah bintang melintas berlalu, massa gas yang berputar mengelilingi matahari menjadi dingin dan terbentuklah cincin yang lama kelamaan menjadi padat dan di sebut planetisimal. Beberapa planetisimal yang terbentuk akan saling tarik – menarik bergabung menjadi satu dan pada akhirnya membentuk planet, termasuk bumi.



Teori Bintang Kembar
Teori ini dikemukakan oleh seorang ahli Astronomi R.A Lyttleton. Menurut teori ini, galaksi berasal dari kombinasi bintang kembar. Salah satu bintang meledak sehingga banyak material yang terlempar. Karena bintang yang tidak meledak mempunyai gaya gravitasi yang masih kuat, maka sebaran pecahan ledakan bintang tersebut mengelilingi bintang yang tidak meledak. Bintang yang tidak meledak itu adalah matahari, sedangkan pecahan bintang yang lain adalah planet-planet yang mengelilinginya.


Teori Pasang Surut Gas (Tidal)


Teori ini dikemukakan oleh James Jeans dan Harold Jeffreys pada tahun 1918, yakni bahwa sebuah bintang besar mendekati matahari dalam jarak pendek, sehingga menyebabkan terjadinya pasang surut pada tubuh matahari, saat matahari itu masih berada dalam keadaan gas. Terjadinya pasang surut air laut yang kita kenal di Bumi, ukuranya sangat kecil. Penyebabnya adalah kecilnya massa bulan dan jauhnya jarak bulan ke Bumi (60 kali radius orbit Bumi). Tetapi, jika sebuah bintang yang bermassa hampir sama besar dengan matahari mendekat, maka akan terbentuk semacam gunung-gunung gelombang raksasa pada tubuh matahari, yang disebabkan oleh gaya tarik bintang tadi. Gunung-gunung tersebut akan mencapai tinggi yang luar biasa dan membentuk semacam lidah pijar yang besar sekali, menjulur dari massa matahari dan merentang ke arah bintang besar itu.

Dalam lidah yang panas ini terjadi perapatan gas-gas dan akhirnya kolom-kolom ini akan pecah, lalu berpisah menjadi benda-benda tersendiri, yaitu planet-planet. Bintang besar yang menyebabkan penarikan pada bagian-bagian tubuh matahari tadi, melanjutkan perjalanan di jagat raya, sehingga lambat laun akan hilang pengaruhnya terhadap-planet yang berbentuk tadi. Planet-planet itu akan berputar mengelilingi matahari dan mengalami proses pendinginan. Proses pendinginan ini berjalan dengan lambat pada planet-planet besar, seperti Yupiter dan Saturnus, sedangkan pada planet-planet kecil seperti Bumi kita, pendinginan berjalan relatif lebih cepat.

Sementara pendinginan berlangsung, planet-planet itu masih mengelilingi matahari pada orbit berbentuk elips, sehingga besar kemungkinan pada suatu ketika meraka akan mendekati matahari dalam jarak yang pendek. Akibat kekuatan penarikan matahari, maka akan terjadi pasang surut pada tubuh-tubuh planet yang baru lahir itu. Matahari akan menarik kolom-kolom materi dari planet-planet, sehingga lahirlah bulan-bulan (satelit-satelit) yang berputar mengelilingi planet-planet. Peranan yang dipegang matahari dalam membentuk bulan-bulan ini pada prinsipnya sama dengan peranan bintang besar dalam membentuk planet-planet, seperti telah dibicarakan di atas.


Teori Big Bang



Berdasarkan Teori Big Bang, proses terbentuknya bumi berawal dari puluhan milyar tahun yang lalu. Pada awalnya terdapat gumpalan kabut raksasa yang berputar pada porosnya. Putaran tersebut memungkinkan bagian-bagian kecil dan ringan terlempar ke luar dan bagian besar berkumpul di pusat, membentuk cakram raksasa. Suatu saat, gumpalan kabut raksasa itu meledak dengan dahsyat di luar angkasa yang kemudian membentuk galaksi dan nebula-nebula. Selama jangka waktu lebih kurang 4,6 milyar tahun, nebula-nebula tersebut membeku dan membentuk suatu galaksi yang disebut dengan nama Galaksi Bima Sakti, kemudian membentuk sistem tata surya. Sementara itu, bagian ringan yang terlempar ke luar tadi mengalami kondensasi sehingga membentuk gumpalan-gumpalan yang mendingin dan memadat. Kemudian, gumpalan-gumpalan itu membentuk planet-planet, termasuk planet bumi.
Dalam perkembangannya, planet bumi terus mengalami proses secara bertahap hingga terbentuk seperti sekarang ini. Ada tiga tahap dalam proses pembentukan bumi, yaitu:
1.      Awalnya, bumi masih merupakan planet homogen dan belum mengalami perlapisan atau perbedaan unsur.
2.      Pembentukan perlapisan struktur bumi yang diawali dengan terjadinya diferensiasi. Material besi yang berat jenisnya lebih besar akan tenggelam, sedangkan yang berat jenisnya lebih ringan akan bergerak ke permukaan.
3.      Bumi terbagi menjadi lima lapisan, yaitu inti dalam, inti luar, mantel dalam, mantel luar, dan kerak bumi


Teori Buffon
Teori Buffon ditkemukakan oleh ahli ilmu alam Perancis George Louis Leelere Comte de Buffon. Beliau mengemukakan bahwa dahulu kala terjadi tumbukan antara matahari dengan sebuah komet yang menyebabkan sebagian massa matahari terpental ke luar. Massa yang terpental ini menjadi planet.


Teori Weizsaecker
Dimana pada tahun 1940, C.Von Weizsaecker, seorang ahli astronomi Jerman mengemukakan tata surya pada mulanya terdiri atas matahari yang dikelilingi oleh massa kabut gas. Sebagian besar massa kabut gas ini terdiri atas unsur ringan, yaitu hidrogen dan helium. Karena panas matahari yang sangat tinggi, maka unsur ringan tersebut menguap ke angkasa tata surya, sedangkan unsur yang lebih berat tertinggal dan menggumpal. Gumpalan ini akan menarik unsur – unsur lain yang ada di angkasa tata surya dan selanjutnya berevolusi membentuk palnet – planet, termasuk bumi.


Terori Kuiper
Dikemukakan oleh Gerald P.Kuiper mengemukakan bahwa pada mulanya ada nebula besar berbentuk piringan cakram. Pusat piringan adalah protomatahari, sedangkan massa gas yang berputar mengelilingi promatahari adalah protoplanet. Dalam teorinya, beliau juga memasukkan unsur – unsur ringan, yaitu hidrogen dan helium. Pusat piringan yang merupakan protomatahari menjadi sangat panas, sedangkan protoplanet menjadi dingin. Unsur ringan tersebut menguap dan malia menggumpal menjadi planet – planet.


Teori Whipple
Dikemukakan oleh seorang ahli astronom Amerika Fred L.Whipple, mengemukakan pada mulanya tata surya terdiri dari gas dan kabut debu kosmis yang berotasi membentuk semacam piringan. Debu dan gas yang berotasi menyebabkan terjadinya pemekatan massa dan akhirnya menggumpal menjadi padat, sedangkan kabutnya hilang menguap ke angkasa. Gumpalan yang padat saling bertabrakan dan kemudian membentuk planet – planet.
Secara umum yang paling populer sampai sekarang adalah Teori Big Bang dan banyak diikuti oleh para ilmuwan walaupun terkadang masih terdapat beberapa perbedaan.








TEORI PENGUKURAN BUMI


   PENGUKURAN KELILING BUMI

Erathostenes diyakini sebagai orang pertama yang berhasil menghitung panjang keliling bumi. Hebatnya lagi, hasil yang ia peroleh benar-benar mendekati dengan hasil perhitungan modern seperti sekarang. Ia merupakan seorang filsuf dan sekaligus ahli matematika dari Yunani yang hidup pada 270-190 SM.

Erastosthenes mengembangkan metode pengukuran keliling bumi seteleh banyak membaca hasil karya para filosof pendahulunya. Suatu saat dia mengamati bahwa:
Dalam satu tahun sekali pada tanggal tertentu saat matahari tepat di tas kepala (Summer Solstice) yaitu tanggal 21 Juni semua dasar sumur di Shina, sekarang Aswan di pinggiran sungai Nil (kota B dalam gambar) terkena cahaya matahari, artinya matahari benar-benar tegak lurus.



Di tempat lain yaitu di Alexandria (kota A dalam gambar) , pada tanggal yang sama justru yang dia lihat tugu-tugu membentuk bayangan karena sinar matahari. Dari kejadian tersebut Eratosthenes percaya bahwa bumi berbentuk bulat. Eratosthenes juga beranggapan bahwa kota Alexandria dan dan Shina berada pada meridian yang sama.

Dengan mengukur sudut bayangan tugu di Alexandria dan mengukur jarak Syene_Alexandria maka dapat ditentukan berapa besar keliling bumi. Berdasarkan pengukuran yang dilakukan oleh Erathostenes, sudut bayangan tugu sebesar 7,5 derajat sedangkan jarak antara Syene dan Alexandria adalah 5000 stadia. Stadia adalah satuan panjang yang biasa digunakan oleh orang yunani kuno, menunjuk pada panjang arena stadium (tempat diadakannya perlombaan olah raga). Satu stadia kira-kira sama dengan 185 m.

Bagaimana peristiwa tersebut dapat dijadikan dasar untuk menghitung keliling bumi?

Pertama, jika pada waktu yang sama diperoleh bahwa di suatu tempat matahari tidak membentuk bayangan dan di tempat lain yang masih satu garis bujur matahari telah membentuk bayangan dengan sudut tertentu, maka sudut tersebut merupakan sudut antara kedua kota terhadap pusat bumi.

Kedua, Jika sudut dan jarak antara kedua kota telah diketahui, maka kita dapat membuat perbandingannya dengan sudut seluruh permukaan bumi dan keliling bumi.


Erastotenes menganggap bahwa besar sudut antara kota Syene dan Alexandria (7,12 derajat) adalah kira-kira 1/50 dari sudut seluruh permukaan bumi (360 derajat). Oleh karena itu, persamaa di atas dapat diselesaikan untuk mencari keliling bumi, yaitu:

Keliling Bumi = 50 x Jarak Syene_Alexandria = 50 x 5000 stadia = 250.000 stadia = 45.750 km.


Sebuah angka yang termasuk luar biasa karena hanya berselisih sedikit (sekitar 15%) dibandingkan menurut perhitungan modern, yaitu:
·         Jarak Alexandria - Shina adalah 729 km bukan 800 km.
·         Jarak Alexandria dan Shina tidak terletak se garis meridian ( beda langitude 30 )
·     Shina tidak terletak di Titik Balik Utara "Tropic of Cancer ( 23,270 )" namun 55 km  lebih ke arah Utara.
·         Sudut angular kedua kota bukan 7, 120 melainkan 7,50.
 
Walaupun demikian, apa yang telah dilakukan oleh Erathostenes merupakan langkah yang sangat spektakuler untuk masa itu, sebab itu terjadi pada 2200 tahun yang lalu.




Kelompok 5

Alfian Muhammad R.             (05)

Farelldo Anggana H.              (12)

Karenima Eka W. N.               (18)

Natalia Yuliska                       (24)

Shalsabila                                (30)

Yusuf Ridlo                            (36)

 

 

PERKEMBANGAN MUKA BUMI

 

A.  Teori Perkembangan Muka Bumi Oleh Para Ahli

 

1.     Alfred Lothar Wegener (1880-1930)

 

Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiJRXNEaMVrF2Z5KLj0FPVAa8FceiV5rFVzuNtWQ5Zk7JPZkqydDGLi5nOYFWqo8pXYH6aoxE6n-iQC33XkfBcBO4l37D7tzeBSSPRpnhyphenhyphenVfZnI50zpLTAuToNH8XqqxNtVk1GK76O18A0/s200/132985-004-2D6F9E75.jpg

 

Menurut Wegener, hanya terdapat satu benua yang sangat besar dan disebut Pangea. Benua ini retak kemudian bergeser saling menjauhi dan membentuk Gondwana. Setelah itu Gondwana terurai, benua Amerika, Eropa, Afrika, Australia, dan Antartika. Teori ini diperkuat oleh bentuk Amerika Selatan di sepanjang bagian timur yang apabila didekatkan dengan benua Afrika sebelah barat akan cocok berbentuk lekukannya. Selain itu, lekukan pada bagian selatan Benua Australia juga apabila didekatkan akan cocok dengan lekukan Benua Antartika.

Kecocokan itu tidak hanya dari segi geografi, tetapi ternyata cocok pula ditinjau dari segi geologi, yakni jenis dan umur batu-batuan yang kira-kira sama. Peristiwa pergeseran itu berlangsung selama jutaan tahun dan masih terus bergerak sampai sekarang.

 

 

2.     Descrates (1596-1650)

 

Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh6GcDNY_tyC-9ILqqhftyzVgs6WXjYAGnXM893qxUcYAyxMxYuG3-ehmNGzH8iZHlLU3-VA5LWWgeCPS7vlNYnxHCEuvF6qDaiB3TGl7xczehW54Hd3DbsF2VHVedpGRI856ZN4j-KwME/s200/Frans_Hals_-_Portret_van_Ren%C3%A9_Descartes.jpg

 

Teori ini disebut teori kontraksi yang menyatakan bahwa bumi kita ini makin susut dan mengerut karena pendinginan sehingga terjadi relief permukaan bumi seperti gunung dan lembah.

 

 

3.      James Dana (1813-1895)

 

Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi1l7kg0l9Kqd_MFONp6KQCTWuy-HXnUYPyVyO9cBLxX1ziZjIpHFfBo6h1-IZD08uuO0GyF8_VKP6HFYe8OZxTNi_Kis_MCE311mqfzmiqZ3EstA4iRRphE0LmHFUeLoW2ZDxXov9x72c/s200/james-dana-sm.jpg

 

James Dana berpendapat bahwa proses pelapukan dan erosi yang membantuk bentang alam.

 

 

 

4.    Edward Suess (1831-1914)

 

Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg2t6ANDOAnZSi4SEt8HlwQqXnEb8k97XL3D-hhc66CN4FkhSaIlftSHGFRgOcJQylkN-6YY6dXIolvzIej1kC3GVg56Mpyl37_MjlIpsAVRd84yhCZu46uRn7on79FXKVgLA5FNOFDzis/s200/eduard-suess-2-sized.jpg

 

Teori ini menyatakan bahwa mula-mula dibumi ini hanya ada dua benua yang berada pada kutub utara dan kutub selatan. Benua Eurasia ada dikutub utara sedangkan Gondwana berada dikutub selatan. Masing-masing benua pecah karena tertarik oleh ekuator. Gondwana pecah menjadi Amerika Selatan, Afrika, Australia, sedangkan Eurasia pecah menjadi Asia, Eropa, dan Amerika Utara.

 

 

B.   Teori Perkembangan Muka Bumi

 

1.      Teori Continental Drift


Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh7PevnfG2IQoEA5iT905vY0nVOD0ofbzMXduSIZC_szhrtDXfEOj-fe6kxWDYcU4d474Nj72kTAnwCYSMHgyMQz0JJ3qIH2zqXa8ugj-e2Niyv5uIFwRhaoPUmiZHbAWxmCUNGYuDztqjG/s320/533px-Pangaea_continents.png
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Teori pengapungan benua dikemukakan oleh Alfred Wegener  pada 1912.

 

 Ia menyatakan bahwa pada awalnya di bumi hanya ada satu benua maha besar disebut Pangea. Menurutnya benua tersebut kemudian terpecah-pecah dan terus mengalami perubahan melalui pergerakan dasar laut. Gerakan rotasi bumi yang sentripugal, mengakibatkan pecahan benua tersebut bergerak ke arah barat menuju ekuator. Teori ini didukung oleh bukti-bukti berupa kesamaan garis pantai Afrika bagian barat dengan Amerika Selatan bagian timur, serta adanya kesamaan batuan dan fosil di kedua daerah tersebut.

 

 

2.      Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjgHShXMdM5ZGNj5HzChLTlWOYSyQIyK4mmrY-5t2LizFtkgxp3V2YbotfOmqV22pNfaApQynNUzeLOokToIRZTZ9qD7k97R8EBhatqAZGs-5YYkOKHp_-eTWCMY7PXqgdeCKCNiWbD0oYU/s320/330px-Continental_drift.jpgTeori Konstraksi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Teori ini dikemukakan kali pertama oleh Descrates (1596–1650).

 

Ia menyatakan bahwa bumi semakin lama semakin susut dan mengerut disebabkan terjadinya proses pendinginan sehingga di bagian permukaannya terbentuk relief berupa gunung, lembah, dan dataran.

 

Teori Kontraksi didukung pula oleh James Dana (1847) dan Elie de Baumant (1852). Keduanya berpendapat bahwa bumi mengalami pengerutan karena terjadi proses pendinginan pada bagian dalam bumi yang mengakibatkan bagian permukaan bumi mengerut membentuk pegunungan dan lembah-lembah.

 

 

 

 

 

 

 

3.      Teori Laurasia-Gondwana


Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiENnaTLVdLuHbsPJwYJjt-4UpxeGPaNnSu29VMSJfj4gjAuRDo8_7Xhi1rIXWRo6Yar7IFeDPseHzmNS8IHPHUtjhYRaLGBGqrMt59e6MJpb6DHD6EdOySA-MtRStkkLTL1znvoO6ud03M/s320/250Ma_EarlyTr.jpg
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Teori Laurasia-Gondwana kali pertama dikemukakan oleh Edward Zuess pada 1884.

 

Teori ini menyatakan bahwa pada awalnya bumi terdiri atas dua benua yang sangat besar, yaitu Laurasia di sekitar kutub utara dan Gondwana di sekitar kutub selatan bumi. Kedua benua tersebut kemudian bergerak perlahan ke arah equator bumi sehingga pada akhirnya terpecah-pecah menjadi benua-benua yang lebih kecil. Laurasia terpecah menjadi Asia, Eropa, dan Amerika Utara, sedangkan Gondwana terpecah menjadi Afrika, Australia, dan Amerika Selatan.

 

 

4.      Teori Konveksi


Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgkmfjoZM-LPJeub9Y1T3v7_xTLdY5cFERUSGbpgeAwl8dB-hwwddBbS5anNzEmA5Z6YBKrG5ekVvHSDELKxZyhD3IVl_dJ_2uxvGmh1FN33s3622F7UcBf40Tf1kvaDqONSe_DQdHnAxZg/s320/gbr-2.jpg
 

 

 

 

 

 

 

 


Menurut Teori Konveksi yang dikemukakan oleh Arthur Holmes dan Harry H. Hess dan dikembangkan lebih lanjut oleh Robert Diesz, dikemukakan bahwa di dalam bumi yang masih dalam keadaan panas dan berpijar terjadi arus konveksi ke arah lapisan kulit bumi yang berada di atasnya. Ketika arus konveksi yang membawa materi berupa lava sampai ke permukaan bumi di mid oceanic ridge (punggung tengah samudra), lava tersebut akan membeku membentuk lapisan kulit bumi yang baru sehingga menggeser dan menggantikan kulit bumi yang lebih tua.

 

Bukti  dari adanya kebenaran Teori Konveksi yaitu terdapatnya mid oceanic ridge, seperti mid Atlantic Ridge, dan Pasific-Atlantic Ridge di permukaan bumi.

 

Bukti lainnya didasarkan pada penelitian umur dasar laut yang membuktikan semakin jauh dari punggung tengah samudra, umur batuan semakin tua. Artinya, terdapat gerakan yang berasal dari mid oceanic ridge ke arah yang berlawanan disebabkan oleh adanya arus konveksi dari lapisan di bawah kulit bumi.

 

 

5.      Teori Lempeng Tektonik

Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhY8-lGQvlrBZxiHa0RGdwODO_CzCDNgG4keHAQaEAXfBHEl_wSb8lRz4iEO46IIca8NSyNubYAweBb9WxjcTe5K-8ISCUabW_7qvA0piN2fDXdkPtiBU-OKbOVLsiarvcw3VI6UwQ8RkuS/s1600/plates.png

 

Teori Lempeng Tektonik dikemukakan oleh Tozo Wilson.

 

Berdasarkan Teori Lempeng Tektonik, kulit bumi terdiri atas beberapa lempeng tektonik yang berada di atas lapisan astenosfer yang berwujud cair kental. Lempeng-lempeng tektonik pembentuk kulit bumi selalu bergerak karena adanya pengaruh arus konveksi yang terjadi pada lapisan astenosfer dengan posisi berada di bawah lempeng tektonik kulit bumi.

 

Teori lempeng tektonik muncul setelah Alfred Lothar Wagener, seorang ahli meteorologi dan geologi dari Jerman dalam buku  The Origin of Continents an Oceans (1915), mengemukakan  bahwa benua yang padat sebenarnya terapung dan bergerak di atas massa yang relatif lembek (continental drift). Selain itu, berdasarkan hasil pengamatannya beberapa bagian benua terdapat kesamaan bentuk pantai antara benua satu dengan lainnya. Ia juga mendapati kesamaan geologi dan kesamaan makhluk yang hidup di pantai seberang.

Inti dari teori lempeng tektonik adalah kerak Bumi sebetulnya terdiri atas lempengan-lempengan besar yang seolah mengapung dan bergerak pada lapisan inti Bumi yang lebih cair. Teori ini dibuktikan oleh pakar-pakar geologi dengan waktu hampir setengah abad dan diterima sejak tahun 1960-an. Hingga kini teori ini telah berhasil menjelaskan berbagai peristiwa geologis, seperti gempa bumi, tsunami, dan meletusnya gunung berapi, serta bagaimana terbentuknya gunung, benua, dan samudra. Teori ini juga membuktikan bahwa benua-benua selalu bergeser.